SIAPAKAH PAULUS?


          



Paulus tinggal di Tarsus. Bagaimana keadaan lingkungan sekitar Tarsus ketika itu? Kota Tarsus adalah salah satu kota di pemerintahan kekaisaran Romawi. Kota Tarsus juga adalah kota yang maju baik dari segi pendidikan, hukum dan retorika. Tarsus adalah pusat pendidikan yang maju ketika itu. Dengan keadaan kota ini juga, dimungkinkan Paulus juga studi di tempat itu sehingga memperlengkapi dia dengan kecerdasan yang dia dapat dari pendidikan di Tarsus.
          
Sebelum bertobat, Paulus adalah seorang Yahudi yang bernama Saul. Saul mengingatkan bahwa orang tuanya adalah orang Yahudi asli. Mengiangatkan raja pertama Israel yaitu Saul. Setelah bertobat, namanya berubah menjadi Paulus (bhs. Yunani: paulos). Paul artinya kecil. Ada pemahaman ketika perjumpaan dengan Kristus di kota Damsyik justru disitu perubahan namanya. Apakah perubahan nama Saulus menjadi Paulus adalah ketika pertobatannya? Pendapat ini tidak didukung oleh data-data historis. Dalam Kisah Para Rasul 9, 22, dan 26, setelah pertemuannya dengan Kristus, justru namanya masih disebutkan namanya Saulus. Kisah Rasul 13:9, menunjukkan bahwa pertemuannya dengan Kristus itu secara otomatis mengubah namanya.

Memang nama di dalam budaya Yahudi, Yunani dan Romawi ada dua hal yang perlu kita pahami:
1. Nama pranomen yang berarti nama awal. Nama awalnya adalah Saulus.
2. Nama cognomen yang berarti nama tambahan. Sehingga nama ini adalah nama tambahan yang kemudian disebut dengan Paulus.

Pertemuan Paulus dengan Kristus menjadi point awal pemanggilan Paulus dari rasul Yahudi menjadi rasul Kristus. Disebut rasul Yahudi karena dialah merupakan duta yang hendak menyampaikan bahwa keselamatan ialah dengan melakukan Hukum Taurat.
Seorang gembala dalam era sekarang ini, revolusi industri 4.0 apakah seorang gembala tergantung pada revolusi itu atau tergantung kepada si pemanggil itu sendiri? Salah satu ciri revolusi industri 4.0 adalah informasi yang sangat cepat. Menekankan tentang Internet of Things. IOT  menekankan kemampuan segalanya dan bergantung kepada internet. Seorang gembala perlu melihat bagaimana dampak teologi pemanggilan gembala itu?
          
Mengubah tantangan menjadi peluang. Paulus di dalam pelayanannya, dia memberdayakan apa yang ada. Paulus sering berkotbah dimana-mana, di pasar-pasar, pajak, di keramaian. Paulus juga berteologi secara kontekstual. Contohnya: Di kalangan orang Yahudi dia seperti orang Yahudi, jika bersama orang Yunani dia berpikir seperti orang Yunani.
          
Jaman ini menekankan tentang homodeus. Homo berarti manusia, deus berarti dewa. Ini menjadi menjadi tranding, penekanan yaitu manusia menjadi Allah karena menekankan pada kemampuan manusia. Manusia ini menjadi Allah, sehingga banyak ilah karena dalam hal keselamatan pun masih bergantung pada manusia. Inilah yang menjadi tantangan bagi kita pada saat ini.

Teologi pemanggilan Paulus

Paulus sebelum pertobatannya, mengandalkan kemampuannya, Taurat, dan tradisi untuk memperoleh keselamatan. Tetapi dengan pertemuannya dengan Kristus di perjalanan ke Damsyik, dia disadarkan bahkan di transformasi dari rasul Yahudi menjadi Rasul Kristus. Dalam arti, dalam pemanggilan itu terlihat bahwa Paulus menjadi gembala, rasul yaitu karena inisiatif Allah sendiri. Inilah esensi pemanggilan sebagai gembala. Hal yang sama juga berlaku bagi Abraham, murid-murid Tuhan Yesus.
              
Paulus dipanggil bukan karena jasa, kebaikan tetapi karena dibenarkan dan dikuduskan (Rm. 8:29). Kemudian seseorang itu dipanggil untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dan mendamaikan umat (1 Kor. 7:15). Panggilan Paulus didasarkan pada pemanggilan kasih karunia (Gal. 1:15, Rm. 1:5). Panggilan itu adalah panggilan kekudusan.

Bagaimana pemanggilan ini dikaitkan dengan revolusi industri 4.0 ?
             
Dalam revolusi industri 4.0 mengandalkan kebolehan, kemampuan, dan kepintaran manusia, dan internet. Tetapi jika dikaitkan dengan panggilan Paulus bukan mengandalkan kemampuannya, kemajuan jaman, tetapi hanya mengandalkan pemanggilan Allah, dan kasih karunia. Di jaman sekarang, telah terjadi perubahan, ciptaan menjadi pencipta. Karena manusia sebagai ciptaan sudah berubah fungsinya sebagai penciptaan. Oleh sebab itu, di jaman sekarang menekankan anthroposentris yaitu berpusat pada manusia, bukan lagi Theosentrisme atau Kristosentrisme (teologi Paulus).
           
Di dalam konteks jaman kita sekarang, panggilan kekudusan dan tidak bercacat. Jaman ini ditandai dengan kebebasan dalam segala hal. Kebebasan beriternet, berkomunikasi, sampai kebebasan gaya hidup bebas. Karena itu, bagaimana kita bisa menjaga pemanggilan kekudusan dan tidak bercacat itu pada saat ini. 


















Komentar

Postingan populer dari blog ini