KOTBAH MINGGU, 5 SEPTEMBER 2021

Minggu XIV Setelah Trinitatis

Ev.      :  Yesaya 35: 4-10

Ep.      :  Yakobus 2: 5-13

Tema   :  “Kuatkanlah Hatimu, Jangan Takut!”



            Bapa/ibu/saudara/i, saya baru tahu rupanya dalam dunia kesehatan ada yang namanya PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) atau gangguan stres pascatrauma, dimana ini merupakan gangguan mental yang mucul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan. PTSD merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis. Peristiwa traumatis yang dapat memicu PTSD antara lain perang, kecelakaan, bencana alam, dan pelecehan seksual. Meski demikan, tidak semua orang yang teringat pada kejadian traumatis berarti terserang PTSD.

       Barangkali saya masuk kategori PTSD. Saya kadang tersentak mendengar suara kendaraan yang memakai knalpot racing, apalagi saat berjalan kaki. Tiba-tiba saja jantung saya berdetak kencang, kaki gemetar dan keringat dingin. Hal ini dikarenakan ada pengalaman traumatik yang saya alami. Pernah seketika, saat saya berjalan kaki, tiba-tiba ada sepeda motor yang menggunakan knalpot racing, datang dari arah belakang dan menabrak saya. Kejadian itu menyebabkan kaki sebelah kiri saya patah. Sejak saat itulah saya trauma mendengar suara kendaraan dengan knalpot racing. Jadi kalau bapak/ibu/saudara/i mau mengancam saya, tak usah bawa parang atau golok. Bawa saja motor berknalpot racing, pasti saya akan takut.

       Saya tidak tahu apakah ada diantara kita ini ada yang mengalami PTSD. Tapi hasil riset Yayasan Kesehatan Jiwa Inggris mengungkapkan bahwa 1 dari 3 orang dewasa di Inggris mengalami setidaknya satu peristiwa traumatis. Kejadian traumatis ini diartikan sebagai pengalaman buruk yang menempatkan seseorang atau seseorang yang dekat dengannya berisiko mengalami bahaya serius atau kematian. Efeknya bisa berbahaya, salah satunya adalah gangguan jiwa. Bangsa Israel pun dalam perikop khotbah kita siang hari ini diterangkan masih dihantui oleh kejadian yang traumatis. Oleh karenanya Tuhan berfirman melalui nabi Yesaya, agar bangsa Israel menguatkan hati dan jangan takut. Tuhan Allah mengetahui betul bahwa kejiwaan orang-orang Israel sedang terganggu dan tergoncang, dan Allah menyebut umat-Nya itu kondisi tawar hati.

        Bapak/ibu/saudara/i, merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tawar hati menunjukkan pada suatu keadaan yang tidak bersemangat, tidak ada kemauan lagi, hilang keberanian, dan putus harapan. Sikap tawar hati adalah suatu sikap yang apatis, yaitu tidak ada motivasi dan antusiame. Bahkan sikap tawar hati itu dapat menjadi frustasi. Semuanya menunjukkan keadaan sama sekali tidak bersemangat.

       Mengapa bangsa Israel tawar hati? Sebab mereka sedang terancam oleh bangsa-bangsa di sekitarnya terutama Asyur yang pada saat itu mau memperluas daerah kekuasaannya.Peristiwa ini mengingatkan kembali bangsa Israel pada kejadian traumatik yang terjadi ratusan tahun silam yang dialami oleh nenek-moyang mereka, ketika itu bangsanya diperbudak oleh bangsa Mesir. Walaupun generasi di kitab Yesaya ini bukanlah saksi hidup peristiwa perbudakan Mesir, namun peristiwa itu diceritakan ulang ke setiap generasi. Mereka terbayang pada pahit-getirnya kehidupan masa lampai yang dialami oleh nenek-moyang mereka. Dan hal yang demikian juga pasti dialami oleh mereka seandainya bangsa Asyur berhasil menaklukkan mereka. Dalam situasi ketakutan ini bangsa Israel mengharapkan jalan keluar, yaitu mengandalkan Mesir. Istilah iklan Sampoerna, jalan pintas dianggap pantas.

        Bayangkan kitalah keadaan traumatik itu membuat mereka kehilangan akal. Apa mungkin nantinya ketika mereka berkoalisi dengan bangsa Mesir, bangsa itu akan memberikan kemerdekaan sepenuhnya pada mereka? Bukankah bangsa Mesir juga mendendam terhadap bangsa Israel, mengingat peristiwa ratusan tahun yang silam, dimana pasukan terbaik Mesirpada waktu dinasti Firaun berkuasa habis tergulung ombak laut Teberau. Mereka lupa bahwa kuasa yang menolong nenek-moyang mereka adalah Tuhan Allah dan bukannya bangsa-bangsa di sekitar mereka.

      Memang ketakutan sering membuat kita kalut dan memilih jalan pintas serta mengulang kembali kesalahan yang sama. Ada banyak ketakuan yang dialami oleh masing-masing kita. Dan ketakutan itu kadang kala direspon dengan tindakan yang salah. Oleh karena itu firman Tuhan pada siang hari ini mengajak kita agar belajarlah dari masa lalu, mengingat kembali bagaimana terlampaui kita rasa ketakutan itu.

       Firman Allah yang disampaikan oleh nabi Yesaya ini sebenarnya “terapi” yang akan menyembuhkan mereka dari rasa traumatiknya. Pantas jugalah kalau kita mengatakan firman Tuhan ini juga “terapi” bagi kita. Allah mau mengingatkan kembali bagaimana sukacita dan sorak-sorai nenek-moyang mereka yang tidak berdaya melepaskan diri dari Mesir, namun berkat kasih setia Tuhan, mereka dibebaskan dan menjadi satu bangsa yang benar-benar merdeka. Sukacita dan sorak-sorai yang dialami oleh nenek-moyang mereka merupakan suatu hal yang luar biasa, yang belum pernah mereka rasakan secara kolektif (suatu bangsa). Digambarkan dengan peristiwa langkah atau sama sekali belum pernah terjadi, yakni: mata orang-orang buta akan dicelikkan, teliga orang tuli akan dibuka, orang lumpuh melompat, mulut orang bisu akan bersorak-sorai, tanah pasir menjadi kolam, tanah kersang menjadi sumber-sumber air, di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan.

   Barangkali kalau ditanyakan kepada kita yang bukan berkebutuhan khusus, kita tidak dapat mengekspresikan betapa sukacitanya orang-orang berkebutuhan khusus mengalami kesembuhan. Tapi beda bila situasinya kita adalah keluarga dari yang berkebutuhan khusus atau orang yang berkebutuhan khusus itu sendiri. Pasti kita akan bersorak-sorai tak henti-hentinya. Sukacita kita akan meluap-luap mengekspresikan kesembuhan itu. Dan apa yang digambarkan dalam perikop khotbah kita ini nyata terjadi di masa pelayanan Yesus. Banyak orang yang berkebuthan khusus dipulihkan Yesus. Oleh sebab itu orang-orang yang berkebutuhan khusus begitu merindukan dan menantikan Yesus bertindak untuk menyembuhkan mereka, setelah mereka mendengarkan kesaksian banyak orang atas mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Kemana pun Yesus pergi, mereka mencarinya. Sekalipun PPKM diberlakukan pada masa itu, tetap mereka akan berupaya mencari jalan alternatif untuk bertemu dengan Tuhan Yesus atau istilah kerennya PPKMY (Pintar-pintar Kalian Mencari Yesus).

   Apa ketakutan besar dari diri kita masing-masing? Mungkin saja ada pengalaman traumatik dibelakang hidup kita sehingga mempengaruhi pola komunikasi, pola asuh, pola mendidik. Barangkali secara kolektif kita takut akan situasi Covid-19 ini. Tidak dilarang kita berupaya mencari solusi agar pengalaman traumatik itu tidak terulang kembali dalam hidup kita pribadi, maupun dalam hidup anak-anak dan orang-orang dekat kita. Namun satu hal yang harus kita ingat sebagaimana yang disampaikan firman Allah dalam perikop khotbah kita siang ini, bahwa hal terutama yang harus kita lakukan adalah kuatkanlah hati. Bukankah segala sesuatu yang kita ekspresikan berasal/ bersumber dari hati? Oleh karena itu yang harus kita tata adalah hati kita agar ketakutan itu dihadapi dengan penuh pengharapan dan keyakinan.

      Bapak/ibu/saudara/i, kehadiran Tuhan Yesus di dunia ini telah mengubah banyak hal di dunia ini. Cara pandang orang terhadap suatu penyakit tidak lagi dikaitkan dengan dosa atau kutuk, dan semakin banyak dari antara kita ini yang menjadi sahabat bagi saudara kita yang sakit. Kehadiran Yesus juga tidak hanya mencelikkan mata jasmani mereka yang buta namun juga bagi kita yang buta rohani. Dan tentu saja berita sukacita bagi kita hari ini adalah “Yesus sajalah yang akan memberi kelegaan kepada kita dalam setiap letih-lesu, berbeban berat dan ketakutan kita” (bdk. Mat. 11: 28). Inilah yang harus kita yakini termasuk dalam situasi berat di masa pandemi Covid-19. Yesulah keselamatan kita dan inilah yang meneguhkan hati kita. Amin


PENGKOTBAH : Pdt. Bima Gustav Saragih_Sekretaris Umum PGI-WSU

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPAKAH PAULUS?